Takaful dalam pengertian
muamalah diatas, ditegakkan diatas tiga prinsip dasar yaitu [5]
:
1. Saling Bertanggung Jawab.
Banyak Hadits Nabi SAW seperti
yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, yang mengajarkan bahwa hubungan
orang-orang yang beriman dalam jalinan rasa kasih sayang satu sama lain, ibarat
satu badan, bila satu bagian tubuh sakit maka seluruh anggota tubuh akan turut
merasakan penderitaan
“Setiap
orang dari kamu adalah pemikul tanggung jawab dan setiap kamu bertanggung jawab
terhadap orang-orang dibawah tanggung jawab kamu” (HR Bukhari Muslim)
“Tidak sempurna keimanan seorang
mu`min sehingga ia menyukai sesuatu untuk saudaranya sebagaimana ia menyukai
sesuatu itu untuk dirinya sendirinya” (HR Bukhari Muslim)
2. Saling Bekerjasama dan Saling
membantu.
Allah SWT memerintahkan agar
dalam kehidupan bermasyarakat ditegakkan nilai tolong-menolong dalam kebajikan
dan taqwa, sebagaimana firmanNya:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى
الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (المائدة: 2).
“.....Tolong
menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa, janganlah tolong menolong dalam dosa
dan permusuhan” (QS al-Maidah 5:2)
Hadits Nabi SAW mengajarkan
bahwa orang yang meringankan kebutuhan hidup saudaranya akan diringankan
kebutuhannya oleh Allah. Allah akan menolong hambanya selagi ia menolong
saudaranya.
3. Saling Melindungi
Hadits Nabi SAW
mengajarkan bahwa belum sempurna keimanan seseorang yang dapat tidur dengan
nyenyak dengan perut kenyang, sedangkan tetangganya menderita kelaparan.
“Orang muslim adalah orang yang
memberikan keselamatan kepada sesama muslim dari gangguan perkataan dan
perbuatan”.
Dasar pijak Takaful dalam
asuransi mewujudkan hubungan manusia yang Islami diantara para pesertanya yang
sepakat untuk menangung bersama antara mereka, atas resiko yang diakibatkan
musibah yang diderita oleh peserta sebagai akibat dari kebakaran, kecelakaan,
kehilangan, sakit dan sebagainya. Semangat asuransi Takaful adalah menekankan
kepada kepentingan bersama atas dasar rasa persaudaraan di antara peserta.
Persaudaraan di sini meliputi dua bentuk: persaudaraan berdasarkan kesamaan
keyakinan (ukhuwah islamiayah) dan persaudaraan atas dasar kesamaan derajat
manusia (ukhuwah insaniyah)[6].
Dalam praktek kehidupan
bermasyarakat, para sahabat telah memberikan contoh yang indah tentang takaful
ijtima`i, yaitu tatkala kaum muhajirin telah sampai di Maqdinah Al
Munawarah, dan Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum anshar,
maka orang anshar saling berlomba dalam memberikan penghormatan kepada kaum
muhajirin. Ada seseorang anshar yang berkata kepada seorang muhajirin,
“pilihlah di antara harta kekayaanku yang kamu sukai, saya akan memberikannya
kepadamu. Dan pilihlah di antara istriku yang kamu suka, saya akan
menceraikannya dan nikahilah”[7]
Ini adalah gambaran dari sebuah
masyarakat yang menjadikan kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum muslimin
sebagai landasan prilaku mereka.
Contoh lain, diriwayatkan bahwa
orang-orang yang terluka pada perang Yarmuk menolak air yang disodorkan kepada
mereka meski mereka dalam keadaan haus. Masing-masing menyodorkan ait tersebut
kepada temannya yang sedang terluka meski ia sendiri sangat membuthkan, karena
yakin bahwa saudaranya itu lebih membutuhkannya. Akhirnya semuanya meninggal
demi untuk menyelamatkan nyawa teman. Itulah takaful ijtima`i .
Menurut Syekh Abu Zahra [4],
yang dimaksud dengan al-Takaful al-Ijtima`i itu
ialah bahwa setiap individu suatu masyarakat berada dalam jaminan atau
tanggungan masyarakatnya. Setiap orang yang memiliki kemampuan menjadi
penjamin dengan suatu kebajikan bagi setiap potensi kemanusiaan dalam
masyarakat sejalan dengan pemeliharaan kemaslahatan individu, dalam hal menolak
yang merusak dan memelihara yang baik agar terhindar dari berbagai kendala
pembangunan masyarakat yang dibangun diatas dasar-dasar yang benar.
Ungkapan yang paling tepat untuk makna al-Takaful al-Ijtima`i kata Syekh
Abu Zahra ialah sabda Nabi SAW:
اَلْمُؤْمِنُ
لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا (رواه مسلم عن أبي موسى)
“Seorang
mu’min dengan mu’min yang lain ibarat sebuah bangunan, satu bagian menguatkan
bagian yang lain” (HR Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari)
مَثَلُ
الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مِثْلُ
الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عَضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ
بِالسَّهَرِ وَالْحُمَى (رواه مسلم عن النعمان بن بشير)
“Perumpamaan orang beriman dalam kasih sayang, saling mengasihi dan
mencintai bagaikan tubuh (yang satu); jikalau satu bagian menderita sakit maka
bagian lain akan turut menderita” (HR. Muslim dari Nu’man bin Basyir)
No comments:
Post a Comment